Wajar kalau ada orang yang bilang jazz adalah musik yang susah dinikmati karena nada-nadanya aneh, rumit, keriting, dan njelimet. Bisa dimaklumi juga bila ada orang yang menganggap jazz adalah musiknya orang-orang egois. Lihat saja, para musisinya cenderung menonjolkan skill secara individualis. Dan masuk akal juga bila jazz dicap sebagai “mainannya” kaum elite atau kaum gedongan karena konser-konser atau pertunjukannya selalu di tempat-tempat yang eksklusif seperti hotel dan klub-klub mewah.
Bahkan ada juga orang yang risih terhadap arti dari kata “jazz” itu sendiri. Maklum, kata ”jazz” dulunya berasal dari istilah yang sering dipakai dalam ranah seksual. Para musisi jazz di masa-masa awal dulu berpendapat bahwa "to jazz" memiliki arti “berzina”. Bahkan sebagian irama dalam musik jazz pernah diasosiasikan dengan rumah-rumah bordil dan perempuan-perempuan bereputasi kurang baik. Ada juga sumber lain yang menginformasikan bahwa kata “jazz” sudah dikenal dengan ucapan “jess” yang berasal dari kata “jasm” yang berarti ekspresif dalam usaha mengungkapkan kecepatan, kekuatan, serta mencerminkan kepuasan seksual.
Munculnya beberapa imej bagi musik jazz yang berkesan “minor” tadi sebenarnya berpangkal pada sebuah pengertian yang dominan bahwa fungsi utama musik adalah untuk menghibur dan memberikan kepuasan bagi khalayak. Perkembangan teknologi, yaitu munculnya alat perekam suara pada akhir abad ke-19, juga telah mengakibatkan pergeseran besar dalam seni musik dunia: jika pada awalnya musik merupakan ekspresi murni perasaan manusia, maka kini musik menjadi produk industri rekaman dan komoditas dagang.
Musik Kaum Tertindas
Patut digarisbawahi bahwa jazz muncul pertama kali pada tahun 1868 di Amerika, tepatnya di Kota New Orleans. Awalnya, jazz adalah musik tradisional karena mewakili ekspresi dan kultur masyarakat kulit hitam di Amerika yang tertindas. Jenis musik ini lahir dari rintihan penderitaan kaum negro akibat rasialisme yang waktu itu sangat mendominasi kehidupan sosial politik di Amerika. Orang-orang yang berkulit hitam dianggap warga negara kelas dua yang kehidupan ekonominya sangatlah memprihatinkan.
Alat musik yang mereka mainkan pun waktu itu bukanlah alat musik baru yang dijual di toko-toko musik, melainkan peralatan musik bekas yang diperoleh dari toko loakan atau dari tempat pembuangan sampah yang sudah tidak layak pakai. Itulah sebabnya alat musik yang mereka mainkan terdengar sumbang dan terkadang terdengar cukup aneh.
Meski demikian, para penggiat musik jenis ini memainkannya dengan penuh penghayatan. Mereka memainkannya bak sebuah manivestasi keluhan jiwa yang paling dalam atas penindasan fisik dan moral waktu itu. Musik bagi mereka adalah media “curhat” yang paling pas untuk mengobati segala amarah dan kesedihan. Itulah sebabnya ada yang menyebut jazz lebih “soul” dibanding jenis black music lainnya.
Jazz sebenarnya berakar dari musik Blues, kemudian jenis musik ini bermutasi ke bentuk Ragtime (jenis musik yang mencoba menambahkan unsur-unsur musik orang kulit hitam ke dalam musik eropa) yang pada saat itu masih berupa permainan piano tunggal di bar-bar atau saloon.
Dalam perjalanannya kemudian, jazz menjadi suatu bentuk seni musik, baik dalam komposisi tertentu maupun dalam improvisasinya yang merefleksikan melodi-melodi secara spontan. Dan biasanya, para Musisi jazz pada waktu itu mengekspresikan perasaan-perasaannya yang tak mudah dijelaskan. “Kalau kau menanyakannya, kau tak akan pernah tahu,” begitulah komentar yang pernah keluar dari Louis Armstrong, musisi legendaris kelahiran tahun 1900.
Menjadi Musik Populer
Sebagai musik yang mewakili sebuah masyarakat yang terdiskriminasi, maka perkembangan jenis musik ini juga mengalami nasib yang kurang lebih sama. Tapi, timbulnya aliran Swing (musik yang bergoyang-goyang sehingga cocok untuk berdansa) pada dekade 1930-an telah membawa perubahan penting terhadap cara orang memandang musik ini, yang akhirnya berpengaruh pada pengkategorian posisi jazz di antara berbagai musik lain.
Era Swing ditandai dengan munculnya band-band jazz dengan jumlah pemain yang banyak (big band), yang dapat dilihat sebagai sebuah bentuk orkestrasi ala Eropa. Dengan perkembangan tersebut, jazz tidak lagi dianggap sebagai musik “barbar” yang identik dengan orang kulit hitam. Bahkan pada masa itu jazz telah menjadi musik populer dan mulai menyebar ke belahan dunia lain seperti Eropa dan Asia.
Para peneliti mengatakan bahwa bentuk musik jazz yang dianggap sebagai bentuk awal sebelum berkembang ke bentuk jazz sekarang adalah jazz yang muncul sekitar tahun 1915-1917. Pada masa itu, musisi negro New Orleans memainkan musik jazz yang mempunyai ciri khas tertentu sehingga lazim disebut “New Orleans Style”. Gaya jazz pada masa itu dipelopori oleh Blind Lemond Jefferson, gitaris jazz yang sangat disegani.
Selain Blind Lemond, ada pula dua tokoh yang sangat berpengaruh dalam perkembangan musik jazz pada masa itu, mereka adalah Sidney Bechet, Joseph “King” Oliver, dan tentu saja Louis Armstrong, tokoh yang pada akhirnya menjadi musisi legendaris.
Louis Armstrong dikenal sebagai master trompet legendaris yang memiliki tone hangat, attack-nya juga sangat kuat dan jernih. Apalagi, Louis mempunyai warna jazz yang khas. Dialah solist muda pertama di dunia yang menggebrak dunia jazz pada usia belia. Napasnya yang pendek melahirkan tiupan trompet bernada stakato. Begitu juga suara vokalnya. Ia selalu tepat dalam menempatkan nada-dananya. Dan dia juga dianggap sebagai improvisor terbaik di sepanjang zaman.
Dari Dixie ke Swing
Jazz lalu berkembang lagi hingga membentuk aliran Dixie. Ada yang menyatakan bahwa pada masa Blind Lemond Jefferson, awalnya musik Dixie ini tidak memakai drum, tapi menggunakan semacam kayu bergerigi seperti alat pencuci pakaian, ditambah trompet, trombone, clarinet, banjo, tuba, piano, dan gitar. Dalam Dixie, improvisasi dilakukan secara bersama-sama oleh para solois, mulai dari awal hingga akhir lagu. Musisi yang sangat berjasa mengembangkan Dixie antara lain Pee Wee Russel, Jack Tea garden, Leon Bix Bederbecke, Duke Ellington, dan beberapa musisi lainnya.
Dari Dixie, jazz terus berkembang lagi ke Swing. Dalam Swing, improvisasi dilakukan silih berganti dan iramanya lebih berekspresi. Era Swing berlangsung dari awal tahun 1930-an hingga tahun 1940-an. Karena Swing sangat digemari di Amerika, akhirnya jenis musik ini dinobatkan sebagai kebudayaan Amerika, bahkan juga disebut dengan istilah Mainstream.
Musisi yang eksis di era Swing antara lain Teddy Wilson dan pianis Mel Powell. Ada juga seorang peniup trompet kenamaan, Roy Eldidge. Bahkan ada pula musisi pembawa bentuk Swing yang akhirnya mendapat julukan “The King of Swing”, yakni Benny Goodman. Dialah musisi yang mulai meniup clarinet semenjak berusia 10 tahun dan menekuni karir sebagai musisi profesional pada usia 16 tahun. Benny Goodman juga adalah anggota Ben Pollack, yaitu salah satu band jazz terkenal di Chicago waktu itu. Pada usia 18 tahun, Benny Goodman merilis album rekaman atas namanya sendiri.
Dari Bebop Hingga Acid Jazz
Musik Bebop akhirnya menggeser kejayaan Swing. Jenis musik ini lebih progresif. Pada era Bebop, muncullah nama-nama Charlie Christian, Charlie Parker, Art Blakey, Oscar Peterson, serta si legendaris Dizzy Gillispie dan Miles Davis. Pada tahun 1960-an jazz mulai beranjak meninggalkan alur utama, dan menelurkan beberapa aspek jazz yang juga merupakan cabang dari jazz, yaitu jazz latin dan jazz rock.
Jazz memang supel karena ingin beradaptasi dengan jenis musik lainnya. Di samping itu, jazz juga ingin menelusup lebih luas dan luwes di berbagai lapisan golongan masyarakat pecinta musik. Jazz ingin membebaskan ruang geraknya, sehingga akhirnya jazz memasuki masa yang disebut sebagai era “Free Jazz”. Pada era Free Jazz, para musisinya berkarya dengan bebas menuruti kemauan yang tersirat dalam hatinya. Para jazz lover menyebut jazz jenis ini sebagai Jazz kontemporer.
Perubahan zaman tentunya membawa perkembangan teknologi. Peralatan musik juga semakin canggih. Jazz pun mulai beradaptasi dengan semua itu. Di era 1980-an, jazz merambah ke sistem komputerisasi, maka dimulailah era elektrik jazz dalam bentuk Fusion atau Crossover yang lebih mudah dicerna. Musik jenis ini menjadi jembatan bagi orang yang ingin mengenal jazz. Lalu dari sanalah muncul istilah “Jazzy”.
Coba simak saja album-album yang dirilis oleh musisi-musisi macam Herbie Hancock, Quincy Jones, Geoege Duke, Jeff Lorber, John McLaughlin, George Benson, Chick Corea, atau band asal Negeri Sakura yang pernah sangat popular dan hingga saat ini masih menjadi panutan bagi band-band Fusion di Asia: Casiopea.
Pada tahun 80-an akhir, lahirlah Acid Jazz, yang memasukkan unsur-unsur Hip-Hop bahkan Rap. Jenis musik yang satu ini pun sangat diminati oleh para jazz lover muda. Tak mengherankan, album yang dihasilkan oleh group US 3 laris manis bak kacang goreng. Begitu juga grup Incognito. Bahkan musisi veteran macam Sergio Mandes ikutan pula mengusung aliran ini pada album terakhirnya yang berlabel “Timeless”.
Itulah sekelumit tapak tilas perkembangan jazz sebagai musik yang ekspresif, inovatif, serta familiar karena bisa dimainkan di mana saja. Bisa dibilang, jazz tidak melulu jenis musik yang serius dan membosankan. Lebih tepat jika jazz dianggap sebagai sebuah proses “tarik ulur” antara tradisi musik seni yang bersifat elitis dengan musik hiburan yang disukai khalayak luas. Dari proses tarik ulur inilah kemudian muncul banyak sekali varian atau aliran dari musik jazz. myzakian
Kamis, 04 Juni 2009
Langganan:
Postingan (Atom)